Senin, 23 November 2009

Data Sekunder Metode Riset

Posted by paulina.iren at 04.40 0 comments

Tema Penelitian

Pengaruh Biaya Promosi dan Biaya Distribusi terhadap Penjualan Pada PT. ASTRA

Masalah

Apakah ada pengaruh antara biaya promosi dan biaya distribusi terhadap penjualan pada PT.ASTRA

Tujuan Penelitian

Untuk menelaah dan menganalisis pengaruh biaya promosi dan biaya distribusi terhadap penjualan pada PT. ASTRA

Metodologi

· Data yang digunakan data sekunder, analisis deskkriptif dan analisis regresi dan korelasi berganda

· Variabel yang digunakan yaitu variabel independen (Biaya Promosi dan Biaya Distribusi) dan variabel dependen (Penjualan)

· Hipotesis : Ho : Tidak ada hubungan antara biaya promosi dan biaya distribusi terhadap penjualan

Ha: Terdapat hubungan antara biaya promosi dan biaya distribusi terhadap penjualan

Analisis Jurnal III

Posted by paulina.iren at 03.33 0 comments

Pengaruh Kualitas Teknik, Kualitas Fungsional, dan aktivitas Pemasaran Tradisional Terhadap Citra Perusahaan PT. TELKOM Kantor Daerah Tasikmalaya.

Kartawan 1), Toto Sugiharto S2, Sumarna 3)

tsharto@gunadarma.ac.id

182 Pasca Sarjana Universitas Gunadarma

3 PT. TELKOM Tasikamalaya

Judul : Pengaruh Kualitas Teknik, Kualitas Fungsional, dan aktivitas Pemasaran Tradisional Terhadap Citra Perusahaan PT. TELKOM Kantor Daerah Tasikmalaya.

Latar Belakang dan Masalah

Mengglobalnya dunia ditandai dengan semakin tingginya mobilitas barang dan juga orang dari satu tempat ke tempat lain, yang sekaligus membawa konsekuensi kepada semakin ketatnya persaingan perusahaan bisnis. Kondisi ini telah mendorong semua orang untuk berfikir untuk mencari solusi bagaimana perusahaan agar tetap bertahan dan memenangkan persaingan. Oleh karena itu perusahaan-perusahaan senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk mencari pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lamanya dengan strategi Salah satu strategi yang dapat dipergunakan yaitu dengan membangun citra perusahaan seperti yang dialami PT. Telkom Tasikmalaya.

Namum dalam membangun citra suatu perusahaan tidak semudah yang dipikirkan. Seperti yang di alami PT. Telkom kantor daerah Tasikmalaya yang kehilangan hak monopoIi pada bulan agustus 2002 yang berarti memberikan peluang kepada perusahaan lain untuk memasuki pasar, dimana masih belum diketahui apa penyebab utama PT. Telkom sampai kehilangan citra baiknya.

Tujuan

Tujuan dari pada diadakan penelitian ini adalah

1. Mengukur dan menganalisis persepsi konsumen tentang citra PT. Telkom Kandatel Tasikmalaya, dan

2. Mengukur dari pengaruh kualitas teknikal, kualitas fungsional dan aktivitas pemasaran tradisional terhadap citra PT. Telkom Kandatel Tasikmalaya.

Hasil

1. Berdasarkan jawaban responden terhadap citra PT. Telkom terpusat pada penilaian baik dan cukup baik, dengan frekuensi terbanyak menyatakan baik.

2. Variabel Kualitas teknik, kualitas fungsional dan aktivitas pemasaran tradisional berpengaruh terhadap citra perusahaan artinya variabel-variabel tersebut mempunyai pengaruh signifikan dalam membentuk dan membangun citra perusahaan dengan nilai statistik (F=208,849).

3. Besarnya pengaruh ditunjukkan dengan koefisien determinasi (R2)= 0,479 artinya variasi dari citra dapat dijelaskan dari variabel kualitas teknik, fungsional dan pemasaran tradisional. Secara Parsial hanya variabel teknik, dan pemasaran tradisional yang secara nyata dalam pembentukan citra perusahaan.

METODOLOGI

Metodologi yang dilakukan dalam penelitian ini diantaranya yaitu :

1. Teknik Pengambilan Sampel.

Populasi dalam Penelitian ini adalah PT. Telkom yang berada di wilayah Kodya Tasikmalaya, sebanyak 22,475 pelanggan. Kerangka pengambilan contoh diambil dari buku TEelepon tahun 2001/2002 dengan ukuran contoh menggunakan formulasi:

N= N

1+Ne2

Dimana: n = ukuran sampel yang diperlukan

N = ukuran populasi

e2= tingkat kesalahan 10 %

2. Operasionalisasi Variabel

Dalam penelitian ini variable yang dikaji adalah kualitas teknik, kualitas fungsional, pemasaran tradisional dan citra perusahaan. Kualitas teknik berkaitan dengan fasilitas dan penampilan fisik dalam melayani konsumen. Variabel ini diukur dengan dimensi (i) penampilan fisik karyawan; (ii) penampilan fisik PT. Telkom Tasikmalaya; (iii) peralatan yang digunakan perusahaan; (iv) fasilitas fisik pelayanan; (v) kenyamanan dan kebersihan; dan (vi) ketersediaan jaringan baru; dan (vii) pengetahuan teknik dari pegawai.

Kualitas fungsional adalah proses pelayanan berupa interaksi antara PT. Telkom dan pelanggan. Variabel ini diukur dengan dimensi sebagai berikut: (i) keramahan petugas; (ii) kesopanan dan kesabaran petugas; (iii) profesionalisme petugas dalam berinteraksi dengan pelanggan; (iv) kecepatan petugas dalam memberikan pelayanan dan (v) kemudahan petugas untuk dihubungi bila pelanggan mengalami permasalahan.

Pemasaran tradisional merupakan kegiatan berupa promosi dan penetapan tarif. Variabel ini diukur dengan : (i) iklan PT. Telkom di televisi, radio, surat kabar dan majalah; (ii) informasi dari mulut ke mulut; (iii) kegiatan social dan (iv) kewajaran tarif abudemen, pasang baru dan pulsa.

3. Analisis Data

Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini telah diuji yatu uji validitas dan uji reliabilitas. Untuk mengetahui sejauhmana pengaruh variabel teknik, fungsional dan aktivitas pemasaran terhadap citra pemasaran. Data yang telah terkumpul lalu di analisis dengan analisis regresi dan korelasi.

Rumusan Persamaan regresi linier sederhana :

Y = a + b (X)

Rumusan Koefisien Korelasi :

r = n (∑XY) –(∑X) (∑Y)

[ n (∑X2) -(∑X)2]1/2 [ n (∑Y2) - (∑Y)2]1/2

Kamis, 12 November 2009

Perilaku Konsumen

Posted by paulina.iren at 20.15 0 comments

Segmentasi Starbucks di Jakarta.

Berbicara starbucks, yang kita bayangkan adalah bersantai–santai dengan ditemani kopi. Starbucks identik dengan kopi, dengan berbagai macam rasa kopi yang disediakan walaupun disediakan juga kue-kue atau desert dengan berbagai macam rasa. Starbucks sudah cukup banyak kita temukan di Indonesia terutama di mall-mall atau tempat perbelanjaan yang tempatnya cukup eksklusif. Seperti di senayan, plaza semanggi, cheetos, atau mall-mall atau tempat perbelanjaan lainnya terutama di Jakarta, sehingga saya akan memusatkan starbucks di daerah Jakarta. Jika kita lihat segmentasinya, starbucks ini dapat masuk ke dalam berbagai segmentasi. Starbucks ini yang pertama masuk kedalam segmentasi geografis dimana dapat dilihat berdasarkan daerah, ukuran kota dan kepadatan daerah. Berdasarkan daerah starbucks lebih berkembang pesat di daerah Jakarta terutama Jakarta selatan dan Jakarta pusat, walaupun tersebar di banyak daerah di Jakarta. Kenapa banyak ditemukan di daerah Jakarta karena mungkin bahkan sudah dikatakan pasti bahwa produsen melihat bahwa daerah Jakarta adalah ibu kota Indonesia, dan juga adalah kota metropolitan dimana berkumpulnya kumpulan anak-anak muda, atau eksekutif-eksekutif muda yang menjadi target dari pendirian starbucks ini. Dimana kita dapat lihat bahwa Jakarta adalah tempat atau kota berkumpulnya anak-anak yang bila dikatakan untuk zaman saat ini yaitu anak-anak gaul atau kata bekennya yaitu Agata alias anak gaul Jakarta, sehingga produsen mungkin berpikir dapat berkembang pesat, dan dilihat dari ukuran kota bahwa Jakarta merupakan kota yang besar dan merupakan kota untuk berbisnis atau usaha, terbukti sekarang kita lihat di daerah Jakarta sudah tidak kalah dengan luar negri dimana segala sesuatunya dapat kita temukan di Jakarta. Dan bila kita lihat dari kepadatan daerah sendiri bahwa Jakarta termasuk kedalam kota yang paling banyak penduduknya karena seperti yang kita tahu bahwa Jakarta dijadikan tempat untuk beradu nasib sehingga banyak sekali orang-orang dari luar daerah Jakarta yang ingin mengadu nasib walaupun kita tahu bahwa itu tidaklah mudah hingga ada disebutkan bahwa Jakarta itu kejam.

Kemudian menurut saya starbucks juga masuk kedalam segmentasi psikografis, dalam hal ini produsen menentukan ukuran kepribadian dari pada konsumen itu sendiri dan di Jakarta ini produsen meneliti bahwa gaya hidup orang di Jakarta lebih condong kepada kehidupan yang senang untuk menghabiskan waktunya untuk bersantai-santai atau sekedar hanya untuk menikmati hari-hari berkumpul bersama teman-teman, rekan sekerja, keluarga walaupun lebih di dominasi oleh anak muda yang biasanya pulang dari aktivitas nya baik itu sekolah, kuliah, bekerja atau aktivitas-aktivitas lainnya walupun tak jarang juga kita lihat orangtua yang sedang bersantai-santai di starbucks menikmati kopi dan kue atau cake yang ada disana. Namun sepertinya sekarang bila kita lihat dari segi konsumen lebih kepada prestis atas gaya hidupnya yang merasa gengsi bila tidak berkumpul bersama teman-teman bila tidak di starbucks atau tempat untuk berkumpul lainnya yang dapat dikatakan lebih rendah dari starbucks, karena harga dari secangkir kopi itu sendiri sekitar kurang lebih lima puluh ribu rupiah dan juga cake-cake yang dijual dengan kisaran harga seperti itu pula tetapi itu menurut para konsumen merupakan harga yang pas dikarenakan baik dari rasa kopi itu sendiri, cake atau lainnya yang terbukti rasanya yang enak dibanding kopi lainnya dengan harga mungkin lebih murah. Selanjutnya dari sisi konsumen kita lihat segmentasi demografis yang dalam hal ini didasarkan pada gender,dan penghasilan pekerjaan serta pendidikan. Jika dari segi gender yaitu seimbang baik antara pria ataupun wanita. Sedangkan dari segi penghasilan pekerjaan, biasanya para eksekutif muda yang cukup banyak untuk datang kesana untuk menikmati segelas kopi dan cake-cake sepert tiramisu, coklat dan lainnya seperti itu pola kopi rasa capucino, latte, moccacino dan beraneka ragam rasa lainnya ketika mereka pulang dari kantor, begitupula dengan anak kuliahan atau anak sekolah yang berkumpul bersama teman di starbucks apalagi terdapat fasilitas gratis wifi unlimited yang dapat dinikmati dan membuat konsumen atau pengunjung semakin betah untuk berlama-lama di starbucks.

Setelah yang kita lihat produsen melihat segmentasi geografis dan segmentasi demografis dan psikografis, sedangkan perilaku konsumen dapat kita lihat saja pada segmentasi demografis dan psikografis saja. Itulah yang dapat saya jabarkan atas segmentasi starbucks di daerah Jakarta, kurang lebih saya memohon maaf apabila ada kekurangan atas tulisan yang saya tulis ini.

Analisis MR II

Posted by paulina.iren at 20.08 0 comments

Analisis Perpaduan Komponen Anggaran dalam Prosedur Anggaran: Pengujian Kontinjensi Matching

M. Nizarul Alim

Falkutas Ekonomi Universitas Trunojoyo, Indonesia

Email : nizarul_alim@yahoo.com


Latar Belakang dan Masalah

Sistem anggaran memilki fungsi manajerial yang meliputi perencanaan, koordinasi, evaluasi dan umpan balik. Terkait dengan fungsi manajerial maka antara satu komponen anggaran dengan komponen yang lain memiliki time sequence. Blocher (2000) menyatakan bahwa efektivitas anggaran tidak hanya tergantung satu komponen saja tetapi keberhasilan anggaran dipengaruhi oleh perpaduan dan interdependensi antar komponen anggaran. Namun masalahnya yaitu partisipasi anggaran dapat berpengaruh terhadap sasaran anggaran, dan faktor-faktor lainnya seperti revisi anggaran, evaluasi anggaran dapat berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Dan kepuasan kerja manajer.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas perpaduan antar komponen anggaran dengan pengujian kontinjensi matching dengan argument bahwa penganggaran merupakan suatu prosedur yang berurutan dan saling terkait antar komponen anggaran.

Metodologi

Metode dalam penelitian ini adalah penelitian survey dengan menggunakan pendekatan kontinjensi yaitu model kontinjensi matching dengan level penelitian eksplanatif, serta mengambil responden para manajer unit bisnis dengan produk barang konsumsi. Metode pengambilan sampel dengan menggunakan metode cluster random sampling dan analisis statistik inferen untuk pengujian hipotesis dengan menggunakan regresi dengan persamaan :

X2= a+b1X1 dan Y = a+b2X2 + b3x3 + b4(X2-X3) + h5(X2-X4)

Hasil

Berdasarkan temuan empiris di atas dapat dijelaskan beberapa kesimpulan diantaranya bahwa partisipasi anggaran berpengaruh signifikan terhadap sasaran anggaran, serta kebijakan revisi anggaran pada kondisi khusus adanya evaluasi anggaran yang berbasis pada proses pencapaian anggaran berpengaruh signifikan terrhadap kinerja manajerial dan tidak sekedar varian anggaran dipertimbangkan untuk meningkatkan kinerja. Dalam proses penyusunan anggaran, pelaksanaan dan koordinasi serta pengendalian anggaran, komponen anggaran tidak harus dipaksakan fit dengan tingkat kesulitan anggaran. Namun demikian, adanya match antar komponen anggaran berpotensi untuk meningkatkan kinerja manajerial.

 

irene.paulin's Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare