Kamis, 12 November 2009

Perilaku Konsumen

Posted by paulina.iren at 20.15 0 comments

Segmentasi Starbucks di Jakarta.

Berbicara starbucks, yang kita bayangkan adalah bersantai–santai dengan ditemani kopi. Starbucks identik dengan kopi, dengan berbagai macam rasa kopi yang disediakan walaupun disediakan juga kue-kue atau desert dengan berbagai macam rasa. Starbucks sudah cukup banyak kita temukan di Indonesia terutama di mall-mall atau tempat perbelanjaan yang tempatnya cukup eksklusif. Seperti di senayan, plaza semanggi, cheetos, atau mall-mall atau tempat perbelanjaan lainnya terutama di Jakarta, sehingga saya akan memusatkan starbucks di daerah Jakarta. Jika kita lihat segmentasinya, starbucks ini dapat masuk ke dalam berbagai segmentasi. Starbucks ini yang pertama masuk kedalam segmentasi geografis dimana dapat dilihat berdasarkan daerah, ukuran kota dan kepadatan daerah. Berdasarkan daerah starbucks lebih berkembang pesat di daerah Jakarta terutama Jakarta selatan dan Jakarta pusat, walaupun tersebar di banyak daerah di Jakarta. Kenapa banyak ditemukan di daerah Jakarta karena mungkin bahkan sudah dikatakan pasti bahwa produsen melihat bahwa daerah Jakarta adalah ibu kota Indonesia, dan juga adalah kota metropolitan dimana berkumpulnya kumpulan anak-anak muda, atau eksekutif-eksekutif muda yang menjadi target dari pendirian starbucks ini. Dimana kita dapat lihat bahwa Jakarta adalah tempat atau kota berkumpulnya anak-anak yang bila dikatakan untuk zaman saat ini yaitu anak-anak gaul atau kata bekennya yaitu Agata alias anak gaul Jakarta, sehingga produsen mungkin berpikir dapat berkembang pesat, dan dilihat dari ukuran kota bahwa Jakarta merupakan kota yang besar dan merupakan kota untuk berbisnis atau usaha, terbukti sekarang kita lihat di daerah Jakarta sudah tidak kalah dengan luar negri dimana segala sesuatunya dapat kita temukan di Jakarta. Dan bila kita lihat dari kepadatan daerah sendiri bahwa Jakarta termasuk kedalam kota yang paling banyak penduduknya karena seperti yang kita tahu bahwa Jakarta dijadikan tempat untuk beradu nasib sehingga banyak sekali orang-orang dari luar daerah Jakarta yang ingin mengadu nasib walaupun kita tahu bahwa itu tidaklah mudah hingga ada disebutkan bahwa Jakarta itu kejam.

Kemudian menurut saya starbucks juga masuk kedalam segmentasi psikografis, dalam hal ini produsen menentukan ukuran kepribadian dari pada konsumen itu sendiri dan di Jakarta ini produsen meneliti bahwa gaya hidup orang di Jakarta lebih condong kepada kehidupan yang senang untuk menghabiskan waktunya untuk bersantai-santai atau sekedar hanya untuk menikmati hari-hari berkumpul bersama teman-teman, rekan sekerja, keluarga walaupun lebih di dominasi oleh anak muda yang biasanya pulang dari aktivitas nya baik itu sekolah, kuliah, bekerja atau aktivitas-aktivitas lainnya walupun tak jarang juga kita lihat orangtua yang sedang bersantai-santai di starbucks menikmati kopi dan kue atau cake yang ada disana. Namun sepertinya sekarang bila kita lihat dari segi konsumen lebih kepada prestis atas gaya hidupnya yang merasa gengsi bila tidak berkumpul bersama teman-teman bila tidak di starbucks atau tempat untuk berkumpul lainnya yang dapat dikatakan lebih rendah dari starbucks, karena harga dari secangkir kopi itu sendiri sekitar kurang lebih lima puluh ribu rupiah dan juga cake-cake yang dijual dengan kisaran harga seperti itu pula tetapi itu menurut para konsumen merupakan harga yang pas dikarenakan baik dari rasa kopi itu sendiri, cake atau lainnya yang terbukti rasanya yang enak dibanding kopi lainnya dengan harga mungkin lebih murah. Selanjutnya dari sisi konsumen kita lihat segmentasi demografis yang dalam hal ini didasarkan pada gender,dan penghasilan pekerjaan serta pendidikan. Jika dari segi gender yaitu seimbang baik antara pria ataupun wanita. Sedangkan dari segi penghasilan pekerjaan, biasanya para eksekutif muda yang cukup banyak untuk datang kesana untuk menikmati segelas kopi dan cake-cake sepert tiramisu, coklat dan lainnya seperti itu pola kopi rasa capucino, latte, moccacino dan beraneka ragam rasa lainnya ketika mereka pulang dari kantor, begitupula dengan anak kuliahan atau anak sekolah yang berkumpul bersama teman di starbucks apalagi terdapat fasilitas gratis wifi unlimited yang dapat dinikmati dan membuat konsumen atau pengunjung semakin betah untuk berlama-lama di starbucks.

Setelah yang kita lihat produsen melihat segmentasi geografis dan segmentasi demografis dan psikografis, sedangkan perilaku konsumen dapat kita lihat saja pada segmentasi demografis dan psikografis saja. Itulah yang dapat saya jabarkan atas segmentasi starbucks di daerah Jakarta, kurang lebih saya memohon maaf apabila ada kekurangan atas tulisan yang saya tulis ini.

Analisis MR II

Posted by paulina.iren at 20.08 0 comments

Analisis Perpaduan Komponen Anggaran dalam Prosedur Anggaran: Pengujian Kontinjensi Matching

M. Nizarul Alim

Falkutas Ekonomi Universitas Trunojoyo, Indonesia

Email : nizarul_alim@yahoo.com


Latar Belakang dan Masalah

Sistem anggaran memilki fungsi manajerial yang meliputi perencanaan, koordinasi, evaluasi dan umpan balik. Terkait dengan fungsi manajerial maka antara satu komponen anggaran dengan komponen yang lain memiliki time sequence. Blocher (2000) menyatakan bahwa efektivitas anggaran tidak hanya tergantung satu komponen saja tetapi keberhasilan anggaran dipengaruhi oleh perpaduan dan interdependensi antar komponen anggaran. Namun masalahnya yaitu partisipasi anggaran dapat berpengaruh terhadap sasaran anggaran, dan faktor-faktor lainnya seperti revisi anggaran, evaluasi anggaran dapat berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Dan kepuasan kerja manajer.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas perpaduan antar komponen anggaran dengan pengujian kontinjensi matching dengan argument bahwa penganggaran merupakan suatu prosedur yang berurutan dan saling terkait antar komponen anggaran.

Metodologi

Metode dalam penelitian ini adalah penelitian survey dengan menggunakan pendekatan kontinjensi yaitu model kontinjensi matching dengan level penelitian eksplanatif, serta mengambil responden para manajer unit bisnis dengan produk barang konsumsi. Metode pengambilan sampel dengan menggunakan metode cluster random sampling dan analisis statistik inferen untuk pengujian hipotesis dengan menggunakan regresi dengan persamaan :

X2= a+b1X1 dan Y = a+b2X2 + b3x3 + b4(X2-X3) + h5(X2-X4)

Hasil

Berdasarkan temuan empiris di atas dapat dijelaskan beberapa kesimpulan diantaranya bahwa partisipasi anggaran berpengaruh signifikan terhadap sasaran anggaran, serta kebijakan revisi anggaran pada kondisi khusus adanya evaluasi anggaran yang berbasis pada proses pencapaian anggaran berpengaruh signifikan terrhadap kinerja manajerial dan tidak sekedar varian anggaran dipertimbangkan untuk meningkatkan kinerja. Dalam proses penyusunan anggaran, pelaksanaan dan koordinasi serta pengendalian anggaran, komponen anggaran tidak harus dipaksakan fit dengan tingkat kesulitan anggaran. Namun demikian, adanya match antar komponen anggaran berpotensi untuk meningkatkan kinerja manajerial.

Jumat, 09 Oktober 2009

Posted by paulina.iren at 00.58 0 comments

Analisis Jurnal

“Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Minat Pemanfaatan

Sistem Informasi dan Penggunaan Sistem Informasi”

(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta)

Pengarang :

Rini Handayani

Staf Pengajar STIE Atma Bhakti Surakarta

Judul

Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Minat Pemanfaatan Sistem Informasi dan Penggunaan Sistem Informasi.

Masalah

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah mengenai bagaimana pengaruh ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha dan faktor sosial terhadap minat pemanfaatan SI serta bagaimana pengaruhnya kondisi – kondisi yang memfasilitasi pemakai SI dan minat pemanfaatan SI terhadap penggunaan SI.

Latar Belakang

Kelangsungan hidup perusahaan sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk bersaing dipasar. Kemampuan bersaing memerlukan strategi yang bisa memanfaatkan semua kekuatan dan peluang yang ada, serta dapat menutupi kelemahan dan menetralisasi hambatan dalam dinamika bisnis. Semua itu dapat dilakukan bila manajemen mampu mengambil keputusan yang didasarkan pada informasi yang berkualitas yang terbentuk dari sistem informasi yang dirancang dengan baik. Karena itu, teknologi informasi mempunyai peran penting yang dapat menjadi senjata strategis perusahaan untuk unggul dalam bersaing dipasar.

Tujuan

Penelitian ini ditujukan untuk menguji faktor – faktor yang mempengaruhi minat pemanfaatan sistem informasi dan pengaruhnya terhadap penggunaan sistem informasi.

Metodologi

Desain penelitian ini adalah survey. Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif yang bersumber pada data primer dan berpopulasi pada industri manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dengan sampel yaitu para karyawan departemen keuangan dan akuntansi yang menggunakan SI. Variabel yang digunakan terdiri dari empat variabel independen(X) yaitu ekspektasi kinerja(X1), ekspektasi usaha(X2), faktor sosial(X3), kondisi yang memfasilitasi pemakai SI(X4), serta dua variable dependen(Y) yaitu minat pemanfaatan SI(Y1) dan penggunaan SI(Y2) dengan model persamaan regresi sebagai berikut : Y1 = β1X12X23X3 dan Y2 = β4Y15X4+ε.

Hasil Penelitian

Ekspektasi kinerja dan ekspektasi usaha mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap minat pemanfaatan sistem informasi. Faktor sosial mempunyai pengaruh positif tetapi pengaruh tersebut tidak signifikan terhadap minat pemanfaatan sistem informasi. Kondisi – kondisi yang memfasilitasi pemakai mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan sistem informasi. Minat pemanfaatan sistem informasi berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap penggunaan sistem informasi.

 

irene.paulin's Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare